KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Bahas Perjuangan Islam Nusantara, Peran PWLS, dan Tantangan Kebangsaan

Podcast TV Alwaha yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Quran, Desa Mejagong, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah,
Warta Batavia - PEMALANG – Podcast TV Alwaha yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Quran, Desa Mejagong, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menghadirkan diskusi panjang mengenai perjuangan Islam Nusantara, peran Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWLS), isu nasab, hingga pandangan terhadap dinamika kebangsaan terkini.

Acara yang dipandu Ustaz Bahril Ulum tersebut menghadirkan narasumber utama KH Imaduddin Utsman Al-Bantani. Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Quran KH Lukman Hakim, Ketua PD PWLS Kabupaten Pemalang KH Ismail Husein, serta sejumlah tokoh dan pengurus organisasi yang mengikuti jalannya dialog.

Dalam suasana santai namun penuh perhatian dari para peserta, berbagai isu strategis dibahas mulai dari sejarah lahirnya PWLS, posisi organisasi dalam menjaga bangsa, hingga pandangan terhadap perkembangan sosial dan politik nasional.

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Bahas Perjuangan Islam Nusantara, Peran PWLS, dan Tantangan Kebangsaan


Pondok Pesantren Nurul Quran Disebut Memiliki Nilai Historis

Pada awal dialog, KH Imaduddin Utsman Al-Bantani menyampaikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Nurul Quran yang menurutnya memiliki peran penting dalam perjalanan gerakan yang kemudian berkembang menjadi PWLS.

Ia mengenang bahwa pesantren tersebut menjadi salah satu tempat awal berlangsungnya kegiatan dan diskusi yang berkaitan dengan perjuangan yang saat ini dijalankan oleh PWLS. Menurutnya, keberanian para pengasuh pesantren untuk membuka ruang dialog pada masa awal menjadi bagian penting dalam perkembangan gerakan tersebut.

KH Imaduddin menilai keberadaan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan dan semangat perjuangan yang menurutnya berorientasi pada kepentingan umat serta bangsa.

Hubungan NAAT dan PWLS Dinilai Saling Melengkapi

Dalam kesempatan itu, KH Lukman Hakim menjelaskan keterlibatannya di berbagai organisasi, termasuk sebagai Ketua Naqabah Ansab Auliya Tis’ah (NAT) Kabupaten Pemalang.

Menurutnya, NAT dan PWLS memiliki karakter yang berbeda namun dapat saling melengkapi. Ia menggambarkan keduanya seperti dua sisi mata uang yang memiliki fungsi masing-masing.

NAT disebut lebih berfokus pada aspek kekeluargaan dan pembahasan terkait nasab para tokoh keturunan Walisongo, sementara PWLS bergerak lebih luas dalam konteks sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.

KH Lukman Hakim menjelaskan keterlibatannya di berbagai organisasi, termasuk sebagai Ketua Naqabah Ansab Auliya Tis’ah (NAT) Kabupaten Pemalang


Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Ustaz Bahril Ulum yang menyebut NAT sebagai organisasi keluarga, sedangkan PWLS memiliki ruang gerak yang lebih luas karena berkaitan dengan upaya menjaga bangsa dan negara.

Pemalang Disebut Menjadi Bagian Penting Sejarah PWLS

Ketua PD PWLS Kabupaten Pemalang, KH Ismail Husein, menjelaskan bahwa Pemalang memiliki posisi penting dalam sejarah organisasi tersebut.

Menurutnya, berbagai peristiwa yang terjadi di daerah itu menjadi bagian dari perjalanan lahir dan berkembangnya PWLS. Ia meyakini bahwa perjalanan organisasi tersebut merupakan bagian dari proses yang berjalan sesuai sunnatullah.

Dalam pandangannya, kemunculan tokoh-tokoh pembaharu atau mujadid merupakan sesuatu yang terus terjadi dalam sejarah umat Islam. Karena itu, ia menilai kehadiran gerakan yang membawa semangat pembaruan perlu dikawal bersama.

KH Ismail juga menyinggung pengalamannya saat menghadiri kegiatan internasional yang membahas isu-isu kebangsaan dan nasab. Ia menyebut bahwa diskusi mengenai ketahanan bangsa Indonesia dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan identitas umat telah menjadi perhatian di tingkat yang lebih luas.

Respons terhadap Berbagai Dinamika Organisasi

Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam podcast tersebut adalah pembahasan mengenai hubungan PWLS dengan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya PBNU.

KH Imaduddin menegaskan bahwa dirinya memandang NU sebagai institusi yang lahir dari tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang telah berkembang lebih dahulu di Nusantara.

Menurutnya, NU memiliki tugas untuk mengorkestrasi dan memperkuat tradisi Islam Nusantara yang telah diwariskan para ulama dan Walisongo.

Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa banyak warga NU yang memiliki kesamaan pandangan dengan berbagai gagasan yang diperjuangkan PWLS. Namun demikian, ia mengakui terdapat berbagai dinamika organisasi dan kepentingan yang membuat proses penyatuan pandangan tidak selalu berjalan mudah.

Dalam podcast tersebut, KH Imaduddin juga menyatakan bahwa masa depan hubungan antara berbagai elemen Islam Nusantara akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan organisasi-organisasi besar keagamaan di Indonesia.

Menyoroti Isu Kebangsaan dan Pemerintahan

Selain membahas persoalan keagamaan dan organisasi, dialog juga menyentuh isu kebangsaan yang sedang berkembang.

Ustaz Bahril Ulum menanyakan pandangan KH Imaduddin mengenai berbagai aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah serta posisi PWLS terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menanggapi hal tersebut, KH Imaduddin mengatakan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Menurutnya, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Namun demikian, ia mengingatkan agar gerakan kritik tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda lain yang berpotensi merugikan bangsa.

Ia mencontohkan bahwa dalam setiap program pemerintah selalu terdapat tantangan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, kritik yang konstruktif dinilai lebih penting dibandingkan upaya-upaya yang mengarah pada konflik berkepanjangan.

Menurutnya, energi bangsa seharusnya lebih banyak diarahkan untuk mengejar kemajuan di bidang teknologi, pendidikan, pertahanan, dan pembangunan nasional.

Pentingnya Optimisme terhadap Bangsa Indonesia

Dalam salah satu bagian yang cukup menarik perhatian peserta, KH Imaduddin menekankan pentingnya optimisme terhadap masa depan Indonesia.

Ia menolak pandangan yang menurutnya terlalu pesimistis terhadap kemampuan bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan global.

Dengan mengacu pada sejarah panjang Nusantara, ia menyatakan bahwa bangsa Indonesia memiliki daya tahan, keberanian, dan pengalaman sejarah yang besar.

Menurutnya, kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan persenjataan atau teknologi, tetapi juga oleh semangat, tekad, dan solidaritas masyarakatnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa percaya diri sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar dalam peradaban kawasan.

Filosofi Nama Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah

Pada sesi tanya jawab, salah seorang peserta meminta penjelasan mengenai filosofi nama Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah serta alasan penggunaan seragam berwarna hitam.

Menjawab pertanyaan tersebut, KH Imaduddin menjelaskan bahwa nama “Perjuangan Walisongo Indonesia” dipilih karena organisasi tersebut ingin meneladani metode dakwah Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara.

Menurutnya, keberhasilan Walisongo menyebarkan Islam tidak terlepas dari pendekatan yang menghormati budaya lokal, kearifan masyarakat, dan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat.

Ia menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membuat Islam berkembang luas di berbagai wilayah Nusantara tanpa harus mengandalkan konflik atau kekerasan.

Karena itu, PWLS mengaku ingin melanjutkan semangat dakwah yang mengedepankan penghormatan terhadap masyarakat, budaya, dan identitas bangsa.

Sementara itu, istilah “Laskar Sabilillah” menurutnya dimaksudkan sebagai penegasan bahwa perjuangan yang dilakukan diarahkan untuk tujuan yang diyakini sebagai bagian dari pengabdian kepada agama dan bangsa.

Makna Warna Hitam pada Seragam PWLS

Terkait warna hitam yang identik dengan seragam PWLS, KH Imaduddin menjelaskan bahwa warna tersebut memiliki makna simbolis.

Menurutnya, hitam merepresentasikan warna bumi Indonesia yang menjadi tempat berpijak seluruh rakyat. Selain itu, warna hitam juga dimaknai sebagai simbol ketegasan, keberanian, dan semangat membumi.

Ia menyebut bahwa penggunaan warna tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kedekatan gerakan dengan masyarakat akar rumput dan semangat menjaga identitas bangsa.

Penjelasan tersebut mendapat perhatian dari para peserta yang hadir dalam forum dialog tersebut.

Ajakan Menjaga Warisan Dakwah Walisongo

Dalam penutupan jawabannya, KH Imaduddin kembali menegaskan pentingnya menjaga warisan dakwah Walisongo.

Ia menilai metode dakwah yang menghormati manusia, budaya, dan tradisi lokal merupakan salah satu kekayaan terbesar Islam Nusantara.

Menurutnya, para dai dan tokoh agama masa kini perlu mempertahankan pendekatan yang memuliakan masyarakat, sebagaimana dicontohkan oleh para ulama terdahulu.

Ia juga mengingatkan bahwa tujuan dakwah bukan sekadar membangun pengaruh pribadi, tetapi menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas bagi umat dan bangsa.

Dialog Berlangsung Hangat dan Interaktif

Podcast TV Alwaha yang berlangsung di Pondok Pesantren Nurul Quran tersebut berjalan dalam suasana hangat dan interaktif. Para peserta yang hadir tidak hanya menyimak paparan narasumber, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung.

Berbagai isu yang dibahas menunjukkan bahwa PWLS saat ini tidak hanya berbicara mengenai persoalan keagamaan, tetapi juga menaruh perhatian terhadap isu kebangsaan, pendidikan, identitas budaya, dan masa depan Indonesia.

Melalui dialog tersebut, para narasumber berupaya menyampaikan pandangan mereka mengenai pentingnya menjaga warisan Islam Nusantara, memperkuat persatuan bangsa, serta menghadapi berbagai tantangan zaman dengan semangat optimisme.

Acara kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar diskusi yang berlangsung dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi bahan refleksi bagi berbagai pihak dalam membangun kehidupan berbangsa dan beragama yang lebih baik di Indonesia. (Qodrat Arispati) 



LihatTutupKomentar